Friday, March 03, 2006
Nikmat dari-Nya (2)
Setelah lulus, kebingungan baru melanda. Saya bingung mo ngapain. Saya takut akan nasib saya kemudian. Apakah saya akan bergabung dengan kelompok usia produktif-pekerja ato akan berada di jajaran usia produktif-pengangguran ;P.
Pada saat-saat terakhir masa perkuliahan, saya emang sempat mengikuti test di salah dua KAP yg sering disasar anak-anak yg mengambil major seperti yg saya ambil. Asli gak pede, karena saya tau saya bukanlah anak yg berotak istimewa. Sementara saya harus bersaing dengan puluhan ato bahkan ratusan teman sejawat yg sangat istimewa.
Sampe saya selesai wisuda panggilan itu tak kunjung datang. Disaat saya mulai yakin gak akan diterima (apalagi sebelumnya saya menerima surat penolakan dari salah satu KAP itu), telepon bersejarah itu pun saya terima ditengah panasnya cuaca siang yogyakarta .
Meskipun saya gak memiliki otak istimewa, ternyata saya masih memiliki tempat yg istimewa dari-Nya. Saya yg biasa-biasa ini, bisa lolos hingga ke tahap akhir tes.
Membaca crita ini mungkin timbul kesan bahwa hidup saya mulus-mulus saja :). Tapi tidak, saya tetaplah orang yg sering diuji. Yg harus tersungkur dan berdarah. Yg menumpahkan airmata dalam sujud pada-Nya.
Saya tau saya gak layak utk complaint kepada-Nya. Karena kesenangan yg Dia beri sudah tak terhitung, kemudahan dari-Nya tak terukur.
Kecenderungan kita sebagai manusia hanya melihat nikmat-nikmat yg kita inginkan, sementara nikmat-nikmat tertentu seolah-olah kehilangan makna. Apakah pernah kita mensyukuri nikmat penglihatan? Bahwa kemaren dan hari ini kita masih bisa melihat terangnya dunia. Kita masih bisa menikmati senyuman orang-orang yg kita sayangi...
Bahwa kemaren dan hari ini kita masih bisa berjalan sempurna. Masih bisa bergerak bebas tanpa halangan...
Apakah hari ini kita sudah mensyukuri itu???
Seandainya saja ada orang yg ingin menukar kedua mata kita, kedua kaki kita, atau kedua tangan kita dengan uang ratusan juta rupiah, dengan rumah megah dan mobil mewah. Apakah kita bersedia?
You see what I mean, bahwa nikmat-nikmat tertentu yg nilainya tak terhingga tak jarang kita lupa utk mensyukurinya. Kita menjadi orang yg alpa...
Jujur, sampe saat ini pun masih banyak rasanya permintaan dan keinginan yg saya sampaikan kepada-Nya.
Saya ingin sekali sekolah lagi, tapi keinginan itu bertabrakan dengan satu dan lain hal. Saya ingin segera memiliki keluarga yg sakinah, tp itu pun belum saya dapatkan. Saya ingin ini... Saya ingin itu...
Tapi saya gak akan protes, gak uring-uringan, ato bahkan sedih berkepanjangan. Karena sampe hari ini pun saya gak pernah bisa menghitung semua nikmat dan kemudahan yg telah diberikan-Nya buat saya......
Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? (TQS 55:13)
Pada saat-saat terakhir masa perkuliahan, saya emang sempat mengikuti test di salah dua KAP yg sering disasar anak-anak yg mengambil major seperti yg saya ambil. Asli gak pede, karena saya tau saya bukanlah anak yg berotak istimewa. Sementara saya harus bersaing dengan puluhan ato bahkan ratusan teman sejawat yg sangat istimewa.
Sampe saya selesai wisuda panggilan itu tak kunjung datang. Disaat saya mulai yakin gak akan diterima (apalagi sebelumnya saya menerima surat penolakan dari salah satu KAP itu), telepon bersejarah itu pun saya terima ditengah panasnya cuaca siang yogyakarta .
Meskipun saya gak memiliki otak istimewa, ternyata saya masih memiliki tempat yg istimewa dari-Nya. Saya yg biasa-biasa ini, bisa lolos hingga ke tahap akhir tes.
Membaca crita ini mungkin timbul kesan bahwa hidup saya mulus-mulus saja :). Tapi tidak, saya tetaplah orang yg sering diuji. Yg harus tersungkur dan berdarah. Yg menumpahkan airmata dalam sujud pada-Nya.
Saya tau saya gak layak utk complaint kepada-Nya. Karena kesenangan yg Dia beri sudah tak terhitung, kemudahan dari-Nya tak terukur.
Kecenderungan kita sebagai manusia hanya melihat nikmat-nikmat yg kita inginkan, sementara nikmat-nikmat tertentu seolah-olah kehilangan makna. Apakah pernah kita mensyukuri nikmat penglihatan? Bahwa kemaren dan hari ini kita masih bisa melihat terangnya dunia. Kita masih bisa menikmati senyuman orang-orang yg kita sayangi...
Bahwa kemaren dan hari ini kita masih bisa berjalan sempurna. Masih bisa bergerak bebas tanpa halangan...
Apakah hari ini kita sudah mensyukuri itu???
Seandainya saja ada orang yg ingin menukar kedua mata kita, kedua kaki kita, atau kedua tangan kita dengan uang ratusan juta rupiah, dengan rumah megah dan mobil mewah. Apakah kita bersedia?
You see what I mean, bahwa nikmat-nikmat tertentu yg nilainya tak terhingga tak jarang kita lupa utk mensyukurinya. Kita menjadi orang yg alpa...
Jujur, sampe saat ini pun masih banyak rasanya permintaan dan keinginan yg saya sampaikan kepada-Nya.
Saya ingin sekali sekolah lagi, tapi keinginan itu bertabrakan dengan satu dan lain hal. Saya ingin segera memiliki keluarga yg sakinah, tp itu pun belum saya dapatkan. Saya ingin ini... Saya ingin itu...
Tapi saya gak akan protes, gak uring-uringan, ato bahkan sedih berkepanjangan. Karena sampe hari ini pun saya gak pernah bisa menghitung semua nikmat dan kemudahan yg telah diberikan-Nya buat saya......
Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? (TQS 55:13)
Labels: contemplation
2 Comments
Post a Comment
« back home


Ria
3:42 PM





pernah dengar istilah 'power of dream' nggak? jadi pernah disuatu training, kami diajarkan mengenai kekuatan 'end of mind'..
define ur end of mind, and built a way to get there! nothing is impossible if you believe it..
The same equation with I belive in Alloh and that believe drives us to get close to Almighty.. rite? :)
Power of dream?
Hmmm, seperti slogan honda ;P