Istri yang ikhlas...

Kemarin susi - OG di kantor saya - bercerita kalo istri kang asep (partnernya bebersih a.k.a OB) sudah melahirkan anak pertama mereka. Kami ngobrol ngalor-ngidul di pantry mengenai persalinan istri kang asep yang katanya sempat mengalami kesulitan sehingga harus dibawa ke rumah sakit di kota untuk melalui caesarean (iya, opis saya ini emang berlokasi di desa :p). Alhamdulillah saat ini ibu dan anak berada dalam kondisi yang baik.

Disela-sela obrolan itu sempat terlontar keprihatinan terhadap kang asep. Caesarean bukanlah sesuatu yang murah, apalagi dengan standar penghasilan mereka. Menurut susi selama ini kang asep sering gali lubang tutup lubang untuk memenuhi kebutuhan rumah tangganya. Ditambah urusan caesarean ini tentu semakin membuat kang asep sesak napas…

“Istrinya itu lho kak...” susi melanjutkan critanya.
“Emang istrinya kenapa?” tanya saya.
“Suka gak mo ngerti keadaan kang asep. Padahal dia tau kalo penghasilan kang asep sebagai OB itu pas-pasan, tapi suka menuntut diatas kemampuan kang asep. Makan maunya yang enak, trus kalo punya keinginan harus dipenuhi langsung meskipun untuk itu kang asep harus minjem-minjem. Malah dia yang menganjurkan kang asep untuk berhutang… Tapi kang asep itu orangnya sabar banget, meskipun begitu dia tetep sayang pada istrinya.”

Mendengar itu saya jadi teringat nasehat mama di suatu siang. Mama bilang jadilah istri yang memahami kondisi suami. Jangan suka menuntut dan terimalah apapun yang dia berikan dengan senang hati. Meskipun yang diberikannya hanyalah sebuah kain yang jelek, tetaplah tersenyum dan katakan bahwa kain yang diberikannya indah sekali…
Ma, doakan anakmu ini semoga bisa menjadi istri yang ikhlas nantinya. Yang menemani jatuh bangun suami dengan tegar dan tabah…Dan bisa mendapatkan tempat di jannah. Amin Allahuma Amin…


*nama-nama dalam cerita ini bukanlah nama sebenarnya :)

Labels: ,

author Ria time 12:08 PM permalink Permalink comment 4 comments
 

Heboh Aa Gym

Mulanya saya gak begitu ambil peduli, toh berita yang beredar belum tentu benar. Apalagi belum ada konfirmasi dari yang bersangkutan. Rasulullah pun mengajarkan kita untuk ber-tabayyun (check and recheck)...
Tapi setelah membaca konpers-nya di detik mau gak mau saya jadi tercenung. Saya berpikir ada apa ini...kok bisa...dan berbagai pertanyaan lain yang intinya mencerminkan ketidakpuasan kebingungan saya akan keputusan blio.
Seorang teman bahkan tidak segan-segan melontarkan kekecewaan ketidaksetujuannya dengan kata-kata yang bernada keras, yg intinya blio telah mempermalukan umat karena apa yang dilakukannya semakin menegaskan bahwa lelaki muslim itu suka mengumbar nafsu...dan ajarannya untuk menyayangi istri hanyalah omong kosong belaka...


Saya selalu meyakini bahwa disetiap kejadian itu pasti ada hikmah ato pelajaran yang bisa kita ambil. Setelah melalui perenungan dan diskusi kecil dgn seseorang saya pun mendapat suatu pemikiran baru, yang lebih jernih dan bebas dari prasangka. That's why i wanna share it with you. It's ok if you have different opinions. It's just me...


Point pertama dan utama adalah Allah tidak akan membebankan sesuatu kepada manusia diluar batas kemampuannya. Jadi meskipun kita berpikir betapa malangnya nasib teh ninih, justru Allah telah menyiapkan blio sebelumnya untuk menghadapi ujian ini... Teh ninih tentu sudah meresapi bahwa kecintaan kita terhadap Allah haruslah melebihi kecintaan kita terhadap anak dan pasangan.
Mungkin kita menganggap betapa tidak adilnya kalo cobaan seperti itu harus menimpa orang sebaik teh ninih. Tapi siapalah kita yang bisa menentukan baik buruknya sesuatu... Sesuatu yang kita anggap baik bisa jadi buruk buat kita. Dan sesuatu yang kita anggap buruk bisa jadi merupakan hal yang terbaik bagi kita. Allah Maha Tahu sedangkan kita tidak mengetahui...


Kita juga harus sadar bahwa Aa Gym hanyalah manusia biasa. Dia bukan seorang yang maksum. Jadi kalau kita merasa terketuk dengan dakwah-dakwahnya selama ini jangan lantas kita merasa blio adalah segalanya... Apalagi sampe mengkultuskan dengan menganggap blio adalah seorang yang sempurna sehingga tingkah laku-nya juga akan selalu sempurna...


Ini adalah pelajaran buat kita semua untuk tidak asal memilih panutan. Bahwa satu-satunya manusia yang pantas dan harus kita jadikan panutan adalah Rasulullah SAW...
Kalo kita tetep merasa Aa Gym bersalah karena dia punya tanggung jawab terhadap umat, ingatlah kembali bahwa kita semua pun memiliki tanggung jawab terhadap umat ini...saling mengingatkan untuk menjalankan islam yang benar secara kaffah.

Another interesting opinion here


Updated
Lihat ini and ini buat tambahan pencerahan...

Labels: ,

author Ria time 11:08 PM permalink Permalink comment 2 comments
 

What will matter?

Lagi ngebersihin inbox dari email2 lama dan menemukan kata-kata bijak ini yg pernah dikirimkan oleh seorang temen. Entah kenapa membacanya membuat saya teringat dgn seseorang…
Ready or not, some day it will all come to an end.
There will be no more sunrises, no minutes, hours or
days.
All the things you collected, whether treasured or
forgotten, will pass to someone else.
Your wealth, fame and temporal power will shrivel to
irrelevance.
It will not matter what you owned or what you were
owed.

Your grudges, resentments, frustrations, and
jealousies will finally disappear.
So, too, your hopes, ambitions, plans, and to-do
lists will expire.
The wins and losses that once seemed so important will
fade away.
It won't matter where you came from, or on what side
of the tracks you lived, at the end.
It won't matter whether you were beautiful or
brilliant.
Even your gender and skin color will be irrelevant.

So what will matter?
How will the value of your days be measured?

What will matter is not what you bought,
but what you built;
not what you got, but what you gave.
What will matter is not your success,
but your significance.
What will matter is not what you learned,
but what you taught.

What will matter is every act of integrity,
compassion, courage or sacrifice that enriched,
empowered or encouraged others to emulate your
example.

What will matter is not your competence,
but your character.
What will matter is not how many people you knew, but
how many will feel a lasting loss when you're gone.
What will matter is not your memories, but the
memories that live in those who loved you.
What will matter is how long you will be remembered,
by whom and for what
.

Living a life that matters doesn't happen by
accident.
It's not a matter of circumstance but of choice.


Choose to live a life that matters.

(Bunda inong, semoga bunda tenang bersamaNYA…)

Labels:

author Ria time 4:06 PM permalink Permalink comment 0 comments
 

dan malaikat maut pun datang...

Last night, I dreamt about someone that I’ve never met directly. The magic of inet that made me meet her. She inspires me in an unique way and when I gave a compliment to her she was too humble to accept it and said “I’m just an ordinary woman.” But for me she is an ordinary woman that inspires with an extraordinary way…
In my dream, she won the battle. The battle that comes suddenly… But in reality she keeps fighting, trying to win the battle.
But now, me and a lot of people out there that respect and love her have to say goodbye…The Almighty had called her back. Good bye mbak inong… have your journey to the final destination…
Innalillahi wa innailaihi rajiun…

Allah memegang jiwa ketika matinya dan jiwa yang belum mati di waktu tidurnya; maka Dia tahanlah jiwa yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditetapkan. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berfikir...(TQS AzZumar:42)

Labels:

author Ria time 12:48 PM permalink Permalink comment 0 comments
 

Benci dan Marah Untukku

Aku bosan.
Bosan dengan diriku yg masih sering terombang-ambing.
Bosan dengan diriku yg kadang tak kuat menahan godaan dunia.
Bosan dengan diriku yg masih panjang angan-angan.

Aku marah.
Marah pada diriku yg gampang melupakan mati.
Marah pada diriku yg belum siap menerima sang pengunjung terakhirku…

Tahukah kau siapa pengunjung terakhirku dan jg pengunjung terakhirmu???
Dialah sang malaikat maut, yg datang tanpa permisi dan tak perlu membuat janji.

Ketika saat perjumpaan itu tiba,
kau dan aku tak akan punya apa-apa.
Selain amal dan ibadah, yg itupun masih sering kita lakukan dengan tak sempurna...

“(Yaitu) orang-orang yang dimatikan oleh para malaikat dalam keadaan berbuat zhalim kepada diri mereka sendiri, lalu mereka menyerah diri (sambil berkata), ‘Kami sekali-kali tidak ada mengerjakan sesuatu kejahatan pun.” (Malaikat menjawab), “Ada, sesungguh-nya Allah Maha Mengetahui apa yang telah kamu kerjakan. “Maka masuklah ke pintu-pintu neraka Jahannam, kamu kekal di dalamnya. Maka amat buruklah tempat orang-orang yang menyombong-kan diri itu.” (QS. An-Nahl: 28-29)

Labels:

author Ria time 11:33 AM permalink Permalink comment 2 comments
 

Determination

Dalam hidup kita harus punya prinsip. Apalagi prinsip itu berasal dr yang haq. Gak gampang untuk bertahan dgn prinsip kita di tengah-tengah kepungan prinsip lain yg lebih dominan. Ketika kita ingin mempertahankannya, gak jarang kita dibombardir dengan pertanyaan-pertanyaan, bahkan bisa juga cibiran karena dianggap menyalahi “prinsip yg berlaku umum.”
Dunia sekarang emang edhun, apa yg kanan dianggap kiri…dan apa yg kiri dikira kanan.

Ya Allah, berikanlah hamba kekuatan untuk memilih yg benar dan kekuatan untuk bisa bertahan menghadapi apapun konsekuensinya…

Labels:

author Ria time 9:50 AM permalink Permalink comment 2 comments
 

Birrul Walidain

Birrul Walidain artinya adalah berbakti kepada orang tua. Imam Qurthubi secara umum mengatakan dalam berbakti kepada orang tua hendaknya seorang anak menyetujui apa yg dikehendaki, diinginkan dan dimaui oleh kedua orang tua.

Namun ketaatan kepada orang tua hanya terbatas pada hal-hal yg baik. Seandainya orang tua menyuruh melakukan sesuatu yg haram ataupun mencegah dari perbuatan yg wajib maka tidak boleh ditaati.

Dalam hubungan dengan orang tua, ada kalanya terjadi pergesekan. Perbedaan cara pandang terhadap sesuatu jg sangat mungkin terjadi.
Ketika hati menjadi panas karena titik temu yg tak kunjung ada, tetaplah menjaga lisan. Jangan sampe mengeluarkan kata-kata yg keras kepada orang tua. Karena kekerasan orang tua itu justru merupakan manifestasi dari rasa sayangnya yg begitu besar kepada kita. Mereka hanya ingin yg terbaik buat anak-anaknya…

(buat "kamu", jazakallah sudah mengingatkan...)

Labels:

author Ria time 4:13 PM permalink Permalink comment 1 comments
 

Untuk direnungi...

Sebagai wanita kadang memang tidak mudah untuk bersikap ikhlas berkorban demi peranannya dalam rumah tangga, namun ketika dia dapat menikmati hal tersebut dengan niat yang benar seringkali Allah tunjukkan jalan yang lebih baik untuk dirinya. Dan di situlah nilai seorang wanita, dengan semua pengorbanannya untuk keluarga maka Allah memuliakan kedudukan seorang wanita...
(Rr. Anita Widayanti, SPsi.)

Labels:

author Ria time 2:24 PM permalink Permalink comment 0 comments
 

Inilah Kita!

Orang yg gelap yg sedang menunggu penerangan. Orang yg lupa yg sedang menunggu peringatan. Orang yg bodoh yg sedang menunggu pengajaran. Orang yg gelisah yg sedang menunggu diturunkan ketenangan...

Itu semua adanya di dalam kekuasaan Allah, Kehendak yg Maha Mutlak

(eramuslim)

Labels:

author Ria time 4:11 PM permalink Permalink comment 2 comments
 

Nikmat dari-Nya (2)

Setelah lulus, kebingungan baru melanda. Saya bingung mo ngapain. Saya takut akan nasib saya kemudian. Apakah saya akan bergabung dengan kelompok usia produktif-pekerja ato akan berada di jajaran usia produktif-pengangguran ;P.
Pada saat-saat terakhir masa perkuliahan, saya emang sempat mengikuti test di salah dua KAP yg sering disasar anak-anak yg mengambil major seperti yg saya ambil. Asli gak pede, karena saya tau saya bukanlah anak yg berotak istimewa. Sementara saya harus bersaing dengan puluhan ato bahkan ratusan teman sejawat yg sangat istimewa.

Sampe saya selesai wisuda panggilan itu tak kunjung datang. Disaat saya mulai yakin gak akan diterima (apalagi sebelumnya saya menerima surat penolakan dari salah satu KAP itu), telepon bersejarah itu pun saya terima ditengah panasnya cuaca siang yogyakarta .
Meskipun saya gak memiliki otak istimewa, ternyata saya masih memiliki tempat yg istimewa dari-Nya. Saya yg biasa-biasa ini, bisa lolos hingga ke tahap akhir tes.

Membaca crita ini mungkin timbul kesan bahwa hidup saya mulus-mulus saja :). Tapi tidak, saya tetaplah orang yg sering diuji. Yg harus tersungkur dan berdarah. Yg menumpahkan airmata dalam sujud pada-Nya.
Saya tau saya gak layak utk complaint kepada-Nya. Karena kesenangan yg Dia beri sudah tak terhitung, kemudahan dari-Nya tak terukur.

Kecenderungan kita sebagai manusia hanya melihat nikmat-nikmat yg kita inginkan, sementara nikmat-nikmat tertentu seolah-olah kehilangan makna. Apakah pernah kita mensyukuri nikmat penglihatan? Bahwa kemaren dan hari ini kita masih bisa melihat terangnya dunia. Kita masih bisa menikmati senyuman orang-orang yg kita sayangi...
Bahwa kemaren dan hari ini kita masih bisa berjalan sempurna. Masih bisa bergerak bebas tanpa halangan...
Apakah hari ini kita sudah mensyukuri itu???
Seandainya saja ada orang yg ingin menukar kedua mata kita, kedua kaki kita, atau kedua tangan kita dengan uang ratusan juta rupiah, dengan rumah megah dan mobil mewah. Apakah kita bersedia?
You see what I mean, bahwa nikmat-nikmat tertentu yg nilainya tak terhingga tak jarang kita lupa utk mensyukurinya. Kita menjadi orang yg alpa...

Jujur, sampe saat ini pun masih banyak rasanya permintaan dan keinginan yg saya sampaikan kepada-Nya.
Saya ingin sekali sekolah lagi, tapi keinginan itu bertabrakan dengan satu dan lain hal. Saya ingin segera memiliki keluarga yg sakinah, tp itu pun belum saya dapatkan. Saya ingin ini... Saya ingin itu...
Tapi saya gak akan protes, gak uring-uringan, ato bahkan sedih berkepanjangan. Karena sampe hari ini pun saya gak pernah bisa menghitung semua nikmat dan kemudahan yg telah diberikan-Nya buat saya......

Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? (TQS 55:13)

Labels:

author Ria time 3:42 PM permalink Permalink comment 2 comments
 

Nikmat dari-Nya (1)

Kalo dipikir-pikir, udah banyak banget nikmat Allah yg saya terima. Mulai dari zaman masih ileran, sampe sekarang...
Saya suka takjub sendiri betapa Allah itu sangat sangat generous, dan selalu memberikan pertolongan-Nya disaat yg gak saya duga.
Dulu, setamat SD saya pengen masuk ke SMP idaman. Alhamdulillah, Allah kasih saya kesempatan utk bersekolah disitu.
Kemudian selepas SMP, saya pengeeen banget bisa mengenakan seragam biru dongker andalan salah satu SMU favorit di kota saya. Tapi NEM saya minimalis. Sehingga saya berada di lapisan penutup :P. Rasanya jantung ini gak berhenti berdebar sampe tiba saatnya pengumuman penerimaan. Lagi-lagi Allah menyelamatkan saya. Di saat-saat terakhir standar NEM sedikit mengecil, dan melengganglah saya menjadi murid disana :)

Keluarga saya adalah keluarga yg biasa-biasa aja. Namun aba (bapak saya) adalah orang yg pandai sekali mengatur keuangan. Sehingga saya dan sodara2 bisa merasakan nikmatnya berlibur disaat liburan sekolah. Pada suatu kesempatan kami sekeluarga berlibur keliling jawa (gak bener2 the whole pulau jawa sih :P) mengendarai jagoan kami. Mampir ke yogya, tempat dimana salah satu abang saya sedang melanjutkan pendidikannya.
Saat itu, hati saya bener-bener terpikat dengan kota yogya. Sehingga pada saat kami sekeluarga harus melanjutkan perjalanan, hati saya pun berbisik menitipkan harapan: ...suatu hari nanti saya akan kembali lagi kesini, menjalani kehidupan perkuliahan saya sendiri...

Beberapa saat menjelang lulus-lulusan SMU, aba sudah menyiratkan kalo saya "sebaiknya" kuliah di kota saya saja. Ato paling banter ke kota yg berjarak +/- 6 jam perjalanan dari kota saya. Yah, itulah nasib anak bungsu, hehehe...
Kalo saja bulaksumur gak berbaik hati memberikan satu kursinya buat saya, maka hampir pasti saya akan memenuhi keinginan aba. Namun sekali lagi saya mendapatkan kebaikan dari-Nya, tanpa perlu susah-susah bersaing dengan ratusan ribu temen-temen di seluruh Indo, saya bisa mencicipi indahnya bergabung dengan komunitas sederhana yg berkepribadian sangat istimewa.

Kemudian...

Hari-hari menjelang pendadaran dan ujian kompre merupakan saat-saat yg menyiksa batin. Bayangan temen-temen yg kurang beruntung, yg harus bolak-balik ke ruang sidang, membuat usaha utk mengingat kembali apa yg sudah dipelajari jd semakin terasa berat. Rasa-rasanya saya diganduli beban yg beratnya sekuintal :P. Hal yg membuat saya masih bisa bertahan adalah doa mama. Saya tau saya akan kembali mendapatkan itu seperti yg sudah-sudah. Di saat saya harus berjuang, ada sajadah yg terbentang disana, ada tangan yg tak putus terangkat memanjatkan seuntai doa, bagi keselamatan dan keberhasilan saya. Bahkan tak jarang ia pun turut menggadaikan dirinya kepada Allah, mengikrarkan nazar demi saya...

Alhamdulillah wa syukurillah....tak putus rasanya memanjatkan syukur bagi-Nya, atas segala rahmat dan kemudahan yg selalu diberikan-Nya buat saya. Di saat-saat terakhir salah satu dosen penguji yg terkenal "sulit" berhalangan hadir. Sehingga saya hanya akan berhadapan dengan 2 dosen penguji, dimana salah satunya adalah dosen pembimbing saya. He will save me for sure, hehehe... Dan memang akhirnya saya dinyatakan lulus, pffiiuuh.

to be continued...

Labels:

author Ria time 3:54 PM permalink Permalink comment 2 comments
 

Jangan Berputus Asa!

Seberapa kuat seseorang itu menanggung penderitaan batin?
Dikala beban hidup makin menumpuk, masalah datang silih berganti. Dada terasa sesak, bagaikan kanker yg merongrong hati, untuk layu dan kemudian mati...
Maka terbersitlah pertanyaan: "Apakah Allah gak menyayangiku...?"

Jangan, jangan pernah berpikir seperti itu. Pertanyaan yg seharusnya diajukan adalah: Apakah kita sudah menyayangi Allah? Apakah kita sudah cukup dekat dengan-Nya, sehingga Dia pun mendekati kita?
Renungi, apakah kita sudah menjadi hamba yg cukup layak utk diberikan compliment dr Sang Khalik... Apakah kita sudah cukup mengenal Allah dikala suka sehingga Dia pun mengenal kita dikala duka...

Apapun yg terjadi atas diri kita, itulah kehendak Allah Azza wa Jalla. Kalo Allah sudah berkehendak, maka tak ada suatu apa yg bisa menghalangi. Kun fayakun, apa yg terjadi terjadilah... (be, and it shall be).

Maka dikala kau merasa tak berdaya, air mata pun tak putus sudah, jangan palingkan dirimu dari-Nya. Jangan berpikir Dia tak lagi menyayangimu. Karena sesungguhnya kasih sayang Allah itu sangat besar. Melebihi kasih sayang seorang ibu kepada anaknya. Pasrahkan segala beban dan masalahmu kepada-Nya. Berdoalah dengan penuh harap. Tak ada yg tak mungkin bagi-Nya, apalagi sekedar memberikan jalan keluar bagi masalahmu.
Namun dikala cahaya itu tak kunjung muncul, jangan pernah berhenti berharap, jangan pernah sedetikpun kau meragukan kehendak-Nya, karena bisa jadi kita gak menyukai sesuatu padahal ia amat baik bagi kita dan bisa jadi kita menyukai sesuatu padahal ia amat buruk kita. Allah Maha Mengetahui sedangkan kita tidak mengetahui... (TQS Al Baqarah:216)

...jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yg kafir (TQS Yusuf:87)

Maka Kami telah memperkenankan doanya dan menyelamatkannya dari kedukaan. Dan demikianlah Kami selamatkan orang-orang yg beriman (TQS Al Anbiyaa':88)

Dan apa saja karunia yg ada padamu, adalah dari Allah, dan bila kamu ditimpa kesulitan, maka hanya kepada-Nya lah kamu meminta pertolongan (TQS An Nahl:53)

Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tentram (TQS Ar Ra'd:28)

(utk seseorang disana: tetep sabar ya, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan...)

Labels:

author Ria time 9:38 AM permalink Permalink comment 1 comments
 

Masjid

Beragam banget bentuknya. Dari yg sederhana berupa mushalla di perkampungan, sampe Masjidil Haram yg megah di Makkah Al Mukarromah. Memang blm membuktikan sendiri sih, tapi dr fotonya saja "keunggulannya" memang sdh terlihat.
Insya'allah someday, Allah mengizinkan utk sampai ke sana :).
Arsitekturnya apa lagi, karena keragaman budaya umat manusia maka terciptalah perpaduan yg indah antara fungsi dan karya seni.
Harus kuakui bahwa diatas sadar (ini sepertinya lawan dibawah sadar :P), Masjid blm menempati top three tempat favoritku. Sampai hari itu...

Setelah sepagian berkeliling kota, rasa pegal yg menusuk mulai menjalar di kedua kaki. Apalg ditambah siang yg mulai terik karena matahari yg mulai naik, bener-bener menimbulkan rasa letih yg membuatku sedikit tertatih.

Menyusuri Arab Street dan berhenti di Masjid Sultan.

Memandangi kubahnya yg keemasan dan teringat cerita kenangan seorang teman di masjid itu membuatku merasakan sesuatu yg lain. Waktu zuhur yg memang telah masuk, mendorong kaki ini utk melangkah kesana. Such a perfect place to pray and give my feet a little time to rest.

Tempat wudhu yg sangat nyaman dan sejuknya air yg membasahi muka mulai menghilangkan sedikit demi sedikit kelelahan yg kurasakan. Setelah sholat rasa lelah itu bener-bener lenyap. Hawa sejuk masjid pun mulai merasuk menimbulkan rasa tersendiri. Aku mulai merenung, perasaan yg kurasakan saat itu sangat familiar. Jauh sebelum ini pun pernah kurasakan...
Masjid dan kesejukannya.

Subhanallah... betapa masjid selalu memberikan kesejukan yang berakhir kepada ketentraman. Badai apapun yg berkecamuk di dalam hati akan teredakan.
But, is it really because of Masjid or something else? Bukankah Masjid juga benda mati, yg tak punya kuasa dan tak memberikan kuasa...?

Then, what is the cause?
Apakah karena rasa kedekatan pada Sang Khalik?

I'm sure it is.
Yup, I'm really sure!

Apapun keadaanmu kembalikanlah pada Sang Khalik. Senang...sedih...gundah...adukan segalanya pada Nya.

..."Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung" (Ali Imran:173)

Karena itu, cukuplah Dia untukku. Apalagi yg bisa menenangkan selain itu...

Labels:

author Ria time 12:54 PM permalink Permalink comment 1 comments
 

Mommy, Mama, Ummi, Ibu, Bunda

Sapa bilang jd seorang ibu itu mudah.
I mean the real mother lho ya. Not just a woman who gives birth.
Baik buruknya seorang anak sangat bergantung dari asuhan orang tuanya. Dalam hal ini terutama ibu sebagai orang yg paling dekat dengan anak.

Rasulullah SAW bersabda:
Setiap anak itu dilahirkan dalam keadaan fitrah. Kedua orangtuanyalah yg membuatnya menjadi seorang Yahudi, Nasrani, atau Majusi.

Jelaslah bahwa seorang anak itu adalah amanah yg diberikan Allah SWT. Baik dan buruknya anak tergantung dr baik dan buruknya pembelajaran yg diberikan orangtua kepadanya.

Ibu adalah madrasah. Ibu adalah orang dimana anak mendapatkan pelajaran pertamanya. Mulai dari hal-hal kecil seperti cara memegang sendok yg bener, sampe ke hal-hal besar yg akan membentuk kepribadian seorang anak.
Mengajarkan sesuatu kepada anak gak cukup hanya dengan perkataan. Teladan dan contoh dari orang tua lebih penting. Gak mungkin menyuruh anak utk sholat, kalo orangtuanya sendiri gak sholat. Atau ngajarin anak utk bersikap sabar, sementara orangtua masih suka mengumbar emosi.
Dan yg paling penting adalah, bagaimana kita mau mengenalkan Allah Azza wa Jalla pada anak, kalo kita sendiri gak mengenalNYA...?

Jadi di dalam proses pendidikan anak kita turut mendidik diri ini.
Ini menurut gw. Gak gampang, karena semua orang jg tau kalo ngomong itu lebih mudah ketimbang bertindak.

Dalam diri seorang wanita ada peran sebagai ibu sekaligus sebagai istri yg harus dijalankan dengan sama baiknya. Belum lagi jam kerja yg gak terbatas, 24/7. Bidang kerja yg mencakup bermacam-macam aspek, dan kemampuan utk memahami karakter setiap anggota keluarga.
It's not easy to be a mom at all.

Someday, kalo gw harus memilih antara menjadi wanita karir (Working Mom) ato berkarir sebagai wanita (Full Time Mom), im gonna choose to become an FTM. But not only an ordinary mom, I wanna be a great mom!

Am I giving up my dream?
Nope, just going with another one... :).

(Inspired by: Cheaper by the Dozen)

Labels:

author Ria time 2:13 PM permalink Permalink comment 1 comments


Lilypie Baby Ticker