Wednesday, December 06, 2006
Istri yang ikhlas...
Kemarin susi - OG di kantor saya - bercerita kalo istri kang asep (partnernya bebersih a.k.a OB) sudah melahirkan anak pertama mereka. Kami ngobrol ngalor-ngidul di pantry mengenai persalinan istri kang asep yang katanya sempat mengalami kesulitan sehingga harus dibawa ke rumah sakit di kota untuk melalui caesarean (iya, opis saya ini emang berlokasi di desa :p). Alhamdulillah saat ini ibu dan anak berada dalam kondisi yang baik.
Disela-sela obrolan itu sempat terlontar keprihatinan terhadap kang asep. Caesarean bukanlah sesuatu yang murah, apalagi dengan standar penghasilan mereka. Menurut susi selama ini kang asep sering gali lubang tutup lubang untuk memenuhi kebutuhan rumah tangganya. Ditambah urusan caesarean ini tentu semakin membuat kang asep sesak napas…
“Istrinya itu lho kak...” susi melanjutkan critanya.
“Emang istrinya kenapa?” tanya saya.
“Suka gak mo ngerti keadaan kang asep. Padahal dia tau kalo penghasilan kang asep sebagai OB itu pas-pasan, tapi suka menuntut diatas kemampuan kang asep. Makan maunya yang enak, trus kalo punya keinginan harus dipenuhi langsung meskipun untuk itu kang asep harus minjem-minjem. Malah dia yang menganjurkan kang asep untuk berhutang… Tapi kang asep itu orangnya sabar banget, meskipun begitu dia tetep sayang pada istrinya.”
Mendengar itu saya jadi teringat nasehat mama di suatu siang. Mama bilang jadilah istri yang memahami kondisi suami. Jangan suka menuntut dan terimalah apapun yang dia berikan dengan senang hati. Meskipun yang diberikannya hanyalah sebuah kain yang jelek, tetaplah tersenyum dan katakan bahwa kain yang diberikannya indah sekali…
Ma, doakan anakmu ini semoga bisa menjadi istri yang ikhlas nantinya. Yang menemani jatuh bangun suami dengan tegar dan tabah…Dan bisa mendapatkan tempat di jannah. Amin Allahuma Amin…
*nama-nama dalam cerita ini bukanlah nama sebenarnya :)
Disela-sela obrolan itu sempat terlontar keprihatinan terhadap kang asep. Caesarean bukanlah sesuatu yang murah, apalagi dengan standar penghasilan mereka. Menurut susi selama ini kang asep sering gali lubang tutup lubang untuk memenuhi kebutuhan rumah tangganya. Ditambah urusan caesarean ini tentu semakin membuat kang asep sesak napas…
“Istrinya itu lho kak...” susi melanjutkan critanya.
“Emang istrinya kenapa?” tanya saya.
“Suka gak mo ngerti keadaan kang asep. Padahal dia tau kalo penghasilan kang asep sebagai OB itu pas-pasan, tapi suka menuntut diatas kemampuan kang asep. Makan maunya yang enak, trus kalo punya keinginan harus dipenuhi langsung meskipun untuk itu kang asep harus minjem-minjem. Malah dia yang menganjurkan kang asep untuk berhutang… Tapi kang asep itu orangnya sabar banget, meskipun begitu dia tetep sayang pada istrinya.”
Mendengar itu saya jadi teringat nasehat mama di suatu siang. Mama bilang jadilah istri yang memahami kondisi suami. Jangan suka menuntut dan terimalah apapun yang dia berikan dengan senang hati. Meskipun yang diberikannya hanyalah sebuah kain yang jelek, tetaplah tersenyum dan katakan bahwa kain yang diberikannya indah sekali…
Ma, doakan anakmu ini semoga bisa menjadi istri yang ikhlas nantinya. Yang menemani jatuh bangun suami dengan tegar dan tabah…Dan bisa mendapatkan tempat di jannah. Amin Allahuma Amin…
*nama-nama dalam cerita ini bukanlah nama sebenarnya :)
Labels: contemplation, my world
4 Comments
Post a Comment
« back home


Ria
12:08 PM






jadi rumah tangga yg sakinah, mawaddah, warrohmah:)