Wednesday, January 10, 2007
Mencari jejak masa lalu
Ada sepotong cerita dari liburan kemarin. Di awali dari niat mama dan saya yang sudah pun membulat sejak sebelum keberangkatan. Kami ingin sekali berziarah ke kuburan njid (begitu saya menyebut kakek dari pihak mama) dan khalati maria (kakak mama). Njid yang tak pernah sekalipun bertemu muka secara langsung - karena beliau meninggal tahun 1963 - dan khalati maria, yang kenangan akan kasih sayangnya yang besar masih terselip di tumpukan memori yang berjejalan di otak saya…
Khalati maria atau lebih sering saya memanggil beliau ummi, memang sudah dari awal dimakamkan di Moslem Cemetery yang terletak di daerah Lim Chu Kang yang merupakan kompleks pekuburan di Singapore. Di sana selain kuburan muslim juga terdapat kuburan pemeluk agama lain seperti hindu, budha, kristen, yang dikelompokkan secara terpisah. Sedangkan Njid, awalnya dimakamkan di kuburan Bidadari di daerah Serangoon sebelum dipindahkan ke Moslem Cemetery di Lim Chu Kang. Hal ihwal pemindahan ini tak lain dan tak bukan adalah karena pembangunan di Singapore yang membuat mereka yang sudah berada di alam lain pun harus ikut berpartisipasi…
Bertiga dengan tante saya yang berdomisili di Singapore kami memulai perjalanan sepagi mungkin, karena antara tempat tinggal tante dan kuburan berada di ujung pulau yang berbeda. Belom lagi letak kubur yang hanya bayang-bayang karena sudah sangat lama tidak ada yang berziarah kesana :(. Kebetulan om saya yang tau posisi kubur itu tengah berada di Jakarta.
Ternyata benar dugaan saya, kami kesulitan mencari di tengah hamparan kuburan yang begitu luas. Saking luasnya kuburan itu terbagi dalam path dan blok dan terdapat nomor urut. Setelah letih mencari karena cuma modal lutut kami memutuskan untuk bertanya di cemetery office. Cukup beruntung karena office tetep buka walopun hari itu merupakan public holiday di Singapore. Berbekalkan nama kami mendapatkan sebuah alamat. Seperti rumah di dunia saja rasanya…
Sayangnya “alamat” njid tidak terdeteksi, entah karena apa. Padahal om saya sudah pernah menziarahi kuburan njid disana. Tapi di record mereka tidak tercatat nama njid…
Walopun agak kecewa, kami sedikit terhibur karena setidaknya masih bisa ziarah ke kubur ummi maria. Mencari blok-nya ternyata pun bukan hal yang mudah karena agak terpencar. Dan area kuburan yang luas menyebabkan kaki menjerit kelelahan. Setelah lelah mencari dan bertanya, akhirnya ketemu juga blok dimana ummi dimakamkan. Tapi perjuangan gak berhenti sampe disitu, kami masi harus mencari kubur bernomer 2473. Saya agak putus asa melihat hamparan kuburan itu. Tanpa ada peta ato panduan mengenai dimana nomer itu dimulai, yang bisa saya lakukan hanyalah trial and error. Singkat cerita saya menemukan direction yang tepat. Tapi nomer 2000-an itu terhenti di 2466. Di sebelah kanan saya merupakan kuburan dengan nomer urut 1000-an, sebelah kiri 3000-an dan di depan terdapat jalan yg memisahkan blok 6 dgn blok 4. Berjalan mundur jelas tidak mungkin, karena nomernya akan semakin mengecil. Duh, pelik sangat lah…
Waktu zuhur semakin dekat, kaki pun semakin letih. Matahari bersinar semakin garang.Kasihan mama yang sudah kelelahan. Kami pasrah, mungkin memang belom ditakdirkan untuk menziarahi mereka saat itu. Dengan langkah gontai kami pulang, dan mampir di masjid yang terdapat di areal pekuburan. Hanya doa lah yang dapat kami panjatkan buat mereka. Kukirimkan Al fatihah untukmu, ummi…njid…
Khalati maria atau lebih sering saya memanggil beliau ummi, memang sudah dari awal dimakamkan di Moslem Cemetery yang terletak di daerah Lim Chu Kang yang merupakan kompleks pekuburan di Singapore. Di sana selain kuburan muslim juga terdapat kuburan pemeluk agama lain seperti hindu, budha, kristen, yang dikelompokkan secara terpisah. Sedangkan Njid, awalnya dimakamkan di kuburan Bidadari di daerah Serangoon sebelum dipindahkan ke Moslem Cemetery di Lim Chu Kang. Hal ihwal pemindahan ini tak lain dan tak bukan adalah karena pembangunan di Singapore yang membuat mereka yang sudah berada di alam lain pun harus ikut berpartisipasi…
Bertiga dengan tante saya yang berdomisili di Singapore kami memulai perjalanan sepagi mungkin, karena antara tempat tinggal tante dan kuburan berada di ujung pulau yang berbeda. Belom lagi letak kubur yang hanya bayang-bayang karena sudah sangat lama tidak ada yang berziarah kesana :(. Kebetulan om saya yang tau posisi kubur itu tengah berada di Jakarta.
Ternyata benar dugaan saya, kami kesulitan mencari di tengah hamparan kuburan yang begitu luas. Saking luasnya kuburan itu terbagi dalam path dan blok dan terdapat nomor urut. Setelah letih mencari karena cuma modal lutut kami memutuskan untuk bertanya di cemetery office. Cukup beruntung karena office tetep buka walopun hari itu merupakan public holiday di Singapore. Berbekalkan nama kami mendapatkan sebuah alamat. Seperti rumah di dunia saja rasanya…
Sayangnya “alamat” njid tidak terdeteksi, entah karena apa. Padahal om saya sudah pernah menziarahi kuburan njid disana. Tapi di record mereka tidak tercatat nama njid…
Walopun agak kecewa, kami sedikit terhibur karena setidaknya masih bisa ziarah ke kubur ummi maria. Mencari blok-nya ternyata pun bukan hal yang mudah karena agak terpencar. Dan area kuburan yang luas menyebabkan kaki menjerit kelelahan. Setelah lelah mencari dan bertanya, akhirnya ketemu juga blok dimana ummi dimakamkan. Tapi perjuangan gak berhenti sampe disitu, kami masi harus mencari kubur bernomer 2473. Saya agak putus asa melihat hamparan kuburan itu. Tanpa ada peta ato panduan mengenai dimana nomer itu dimulai, yang bisa saya lakukan hanyalah trial and error. Singkat cerita saya menemukan direction yang tepat. Tapi nomer 2000-an itu terhenti di 2466. Di sebelah kanan saya merupakan kuburan dengan nomer urut 1000-an, sebelah kiri 3000-an dan di depan terdapat jalan yg memisahkan blok 6 dgn blok 4. Berjalan mundur jelas tidak mungkin, karena nomernya akan semakin mengecil. Duh, pelik sangat lah…
Waktu zuhur semakin dekat, kaki pun semakin letih. Matahari bersinar semakin garang.Kasihan mama yang sudah kelelahan. Kami pasrah, mungkin memang belom ditakdirkan untuk menziarahi mereka saat itu. Dengan langkah gontai kami pulang, dan mampir di masjid yang terdapat di areal pekuburan. Hanya doa lah yang dapat kami panjatkan buat mereka. Kukirimkan Al fatihah untukmu, ummi…njid…2 Comments
Post a Comment
« back home


Ria
5:20 PM





mana nih crita laennya?
n foto2nya juga?:p